Wanita Milenium Ketiga

tpb

Beberapa hari lalu sebagian kecil orang mengingat tanggal 22 Desember adalah hari yang monumental buat kaum wanita khususnya seorang ibu. Tidak banyak orang saat ini mengetahui atau bahkan mengingat tanggal tersebut bahwa pada tanggal itu kita sebagai bangsa yang (katanya) besar memberikan persembahan sangat luar biasa kepada ibu akan jasa dan pengorbanannya.  Perkembangan jaman yang menuntut untuk tidak terlalu peduli akan jasa-jasa seorang ibu yang dulu adalah sebuah karya yang maha besar dari jasa seorang pahlawan Ibu Dewi Sartika.

Hari ibu, istilah ladies night, ladies driver only, ladies first ..please, dan serentetan istilah lainya yang mengatasnamakan wanita bahwa wanita harus dipuja, dipuji dan dihormati serta disayang maupun dicintai sebagai penunjuk pergolakan emosi bahwa wanita adalah mahluk yang lemah dan selalu harus dikedepankan tentang porsi dan posisi, merupakan penghargaan yang tiada tara dari kaum pria. Kaum pria sekarang (meski tidak banyak) begitu menyadari peran seorang wanita yang luar biasa atas sejarah yang menimpa semuanya yang pada akhirnya kita semua dilahirkan dan diasuh sehingga menjadi manusia yang beradab seperti sekarang. Sebuah goresan tinta emas karya besar dari Ibu Kita Kartini.

Arus kencang tentang feminimisme yang merebak sebagai pengaruh media pada intinya mengatasnakaman kesamaan dalam dikotomi separate but equal yang diluncurkan pada konferensi wanita sedunia di Beijing-China telah menjadi tonggak sejarah bahwa wanita-pun memiliki kesejajaran dengan pria dalam artian kemitrasejajaran tentang fungsi, tugas dan tanggung jawab. Dikotomi maskulin-feminim tetap eskis tetapi bukan dalam konteks diskriminasi gender. Kemitrasejajaran ini merupakan sebuah tafsiran yang tepat tentang emansipasi wanita.

Konteks feminimisme sekarang yang mengacu kepada dikotomi diatas tersebut sudah gelap mata, membabi buta sehingga kebablasan tanpa pernah bisa dikontrol yang pada akhirnya melahirkan sebuah fenomena bahwa wanita-pun memiliki persamaan hak dengan pria. Hak mendapatkan pendidikaan yang layak, hak eksis, hak berperan aktif diluar rumah dalam karier mapun aktifitas lainya serta segunung hak lainya.

Terasa asing penggalan kata persamaan hak ini, karena lebih tepat apabila kita menyebut kesetaraan hak dibanding kesamaan hak. Karena tentu saja runtutan kata hak tentu ada kewajiban. Hak dan kewajiban wanita serta pria tentu tidak sama mengingat porsi dan posisi tadi tidaklah sama. Lebih tepatnya berbeda, tetapi sejajar dan bermitra dengan pria. Tetapi tuntutan arus feminimisme terlalu memaksa menjadi persamaan bukan kesetaraan. Menjadi Ironis dan bertolak belakang dengan apa yang diperjuangan Ibu Kartini.

Wanita sekarang pada milenium ketiga ini memiliki persentase yang besar untuk lebih mengekpresikan diri sebagai wanita yang eksis dengan atribut-atribut feminimnya yang bahkan begitu menebar pesona dalam meniti dan mendaki karier tentang kesibukan hari-harinya. Beberapa wanita yang dianggap memiliki power telah memantapkan diri menjadi Perdana Menteri bahkan Presiden. Sebuah capaian yang luar biasa tentang prestasi wanita dan kita yakin jika hal ini terjadi dahulu, Ibu Kartini akan bangga.

Kaum pria sangat setuju dengan kesetaraan hak ini, jangan dijadikan batu sandungan bahwa wanita harus selalu dalam lingkup rumah saja seperti putaran dapur-sumur-kasur saja. Wanita-pun harus lebih aktif dalam peranan-nya sebagai dukungan terhadap kaum pria.  Dan tidak harus menjadi warga kelas dua setelah pria, tetapi jika mengingat dan memahami fungsi dan kewajiban wanita yang jelas memiliki peran ganda dalam rumah dan lingkungan sosialnya, tidak harus menjadikan bahwa sebuah prioritas adalah harus lebih ekspresif diluar rumah. Lebih mengedapankan karier daripada berkarier di rumah.

Renungkan sejenak tentang peranan wanita sekarang ini. Wanita lebih memilih memiliki cita-cita menjadi manajer, direktur, presiden, perdana menteri dan sederet posisi startegis lainnya yang dulu dipegang oleh kaum pria. Ini adalah sebuah bukti berhasilnya emansipasi yang dulu dicanangkan para pendahulu kita. Permasalahanya adalah bukan pada pemilihan cita-cita sebagai hak wanita, tetapi kodrat wanita yang agung sebagai ibu dari anak-anakanya telah terabaikan secara pasti.

Sudah sangat jarang saat ini kita menemukan wanita bercita-cita menjadi ibu yang baik anak-anaknya, penuh kasih, serta gumpalan sayang yang akan diberikan kepada anak-anaknya nanti dan berharap buah kasih bentuk kerjasama yang sinergi dengan sang suami menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat berbudi dan pekerti luhur. Karena ini adalah fungsi utama wanita adalah menjadi ibu yang baik dan contoh nyata pada keluarga serta anak-anaknya

Berkarier dalam rumah tangga menjadi sebuah pilihan terakhir dari pilihan-pilihan lain atau bahkan sudah tidak ada pilihan lain dengan kepasrahan yang tinggi serta helaan nafas kekecewaan jika cita-cita tinggi yang ingin diraih tidak berhasil. Padahal, menjadi ibu bagi anak-anaknya adalah sebuah perkerjaan yang mulia dibanding pekerjaan yang mengharuskan lebih banyak singgungan dan sikutan dalam capaian karier. Perlu dicatat lagi: Menjadi Ibu adalah pekerjaan yang mulia.

Kemuliaan seorang ibu tidak perlu harus dengan deretan prestasi atas karier ekspresif aktifitas luar rumah, tetapi mendidik anak adalah tugas ibu yang paling penting. Jika pun terjadi peran ganda seorang wanita yang jelas dikaruniai Tuhan kekuatan lebih dari pria dalam mengarungi hidup, keseimbangan peran perlu dijaga antara berkarier diluar dan karier yang pasti dirumah bagi wanita, tidak seimbangnya peran ganda wanita bisa menjadi peluru nyasar bagi wanita dan anak-anaknya.

Anak broken home, depresi, stress tinggi dan kurang kasih sayang dari orang tua khususnya seorang ibu, akan menjadikan tren negatif dan preseden buruk yang berkelanjutan bagi kehidupan sang anak. Tentu kita tidak menginginkan generasi emas mendatang kembali kepada siklus gelap nan hitam yang dialami sebagai bentuk pendidikan anak yang salah.

Seraya memperingati hari ibu, kembali mengingat momen penting atas perjuangan para pendahulu, kembalikan semua jalan dan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya yang nanti buah hatinya ini akan menjadi seorang yang lebih bisa dibanggakan, berguna dan bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Ibu yang baik akan menjadikan anak-anaknya baik

Selamat hari ibu, I love you mom…

Iklan

2 thoughts on “Wanita Milenium Ketiga

  1. sering saya temui wanita yang bercita-cita mulia untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya adalah para pembantu rumah tangga, para pegawai toko, wanita-wanita yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kekurangan finansial,atau wanita-wanita sederhana lainnya.

    wanita urban cenderung haus akan eksistensi dan merasa berhak mendapatkan kehidupan yang layak. ekspektasi yang tinggi membuat sebagian dari mereka tidak lagi menyadari hakikatnya sebagai wanita yang sesungguhnya.

    saya belum pernah menjadi ibu, tapi saya percaya bahwa naluri seorang ibu akan selalu ada dan melekat
    dalam diri seorang wanita. 🙂

    • Dear Ffeebbyy,

      Kita akan bangga dengan wanita yang memiliki pendidikan S2 tapi tetap berkeinginan menjadi ibu yang baik bagi anak2nya. dan sekarang memang sangat jarang mendapatkan wanita yang langsung ingin jadi ibu dan istri yang baik. semoga dengan tulisan ini menjadi inspirasi kita semua 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s